Terjatuh Diantara Gemintang (Chapter 3: Tuan, Anda Terlambat 1400 Tahun)


Dihari minggu ini wicak menghabiskan waktunya untuk berolahraga, seperti biasa ia melakukan pemanasan ringan sebelum berlari keliling desa. Sambil sesekali melenturkan otot-ototnya, wicak berlari kecil dan sesekali juga bertegur sapa dengan tetangga. Sebenarnya olahraga berlari ini ia lakukan termotivasi agar dapat menghampiri rumah raminah sejenak, namun hal ini jarang dilakukannya, dengan melihat halaman rumah raminah saja, wicak sudah merasa senang dan rindunya terlampiaskan sudah. Sambil berlari kecil wicak juga melalui rumah teman-teman sekolah lainnya dan sampailah ia disekolah. Hari minggu adalah jadwal latihan bersama bagi seluruh murid-murid sekolah dengan segala macam bidang kegiatan, ada kegiatan olahraga, ada kegiatan pencinta alam, ada kegiatan Palang Merah Remaja, ada kegiatan musik, ada kegiatan menari, sampai kegiatan laboratorium IPA pun berlangsung setiap hari minggu.

Bang Anton meniupkan peluit panjang, tanda agar para atlet untuk bersiap memulai latihan, diperagakannya pemanasan yang rutin mereka lakukan dan diikuti oleh para atlet sekolah. Diperintahkannya wicak dan teman-teman untuk berlari mengelilingi lapangan, sambil berlari kecil para atlet sekolah melenturkan otot-otot mereka, agar pada saat latihan tidak tegang dan keram. Setelah berlari beberapa putaran, bang anton menginstruksikan agar wicak dan teman-teman berlatih lay up karena hari ini jadwalnya latihan teknis,, dilemparnya bola basket satu persatu dan para atlet sekolah secara bergantian mengejar bola basket tersebut dan melakukan lay up dalam sekali dribble dan dua langkah panjang menuju ring basket untuk melakukan lay up. Namun terkadang para atlet sekolah, suka iseng dan tak sabar dalam latihan ini, ada beberapa diantara mereka justru melakukan slamdunk, sekedar show off kepada murid-murid lain yang sedang melakukan aktivitas disekolah, dengan slamdunk yang mereka lakukanpun mengakibatkan halaman sekolah riuh oleh tepuk tangan dan teriakan histeris para teman-teman sekolah mereka. Lalu mereka melakukan latihan all around 3 points jump shot, diletakkan bola oleh bang anton di 5 sisi terluar dari 3 second area, kemudian para atlet sekolah secara bergantian melakukan 3 points shot. Latihan teknis ini secara berkala diterapkan oleh bang anton, setidaknya dalam waktu sebulan dijadwalkan 2 kali untuk latihan teknis, sementara latihan fisik, selain juga dilakukan disekolah pada waktu-waktu tertentu, bang Anton memberikan jadwal-jadwal khusus bagi masing-masing atlet untuk dilakukan dihari-hari lain, diwaktu-waktu senjang, diantara keseharian mereka.

Heru, three pointers SMA 1 Magetan seperti biasanya datang terlambat, seperti biasa pula bang Anton memberinya hukuman push up 14 seri. Setelah melakukan push up, ia diperintahkan untuk berlari keliling lapangan sendirian, untuk kesekian kalinya ia datang terlambat, hukuman push up 14 seri ini menjadi kegiatannya setiap latihan berlangsung. Heru mesti membantu bapaknya bercocok tanam diladang terlebih dahulu, subuh sebelum latihan. Ia tak punya pilihan lain selain menerima hukuman dari bang Anton setiap latihan, karena tidak ada toleransi bagi atlet sekolah yang datang terlambat, meski bagi atlet sekolah yang memiliki skill terbaik sekalipun. Wicak dan teman-teman beberapa kali membicarakan perihal keterlambatan heru kepada bang Anton, namun bang Anton justru memberikan penjelasan panjang lebar tentang ketepatan waktu dan disiplin terhadap diri sendiri. “Tidak ada satupun kemenangan akan kita peroleh tanpa ketepatan waktu dan disiplin kepada diri sendiri dan tim.” Begitulah disatu hari bang Anton berkata ketika para atlet sekolah mencoba untuk memberikan keringanan kepada heru mengenai waktu. “Membuka ruang gerak, melakukan penetrasi ke pertahanan lawan, intersepsi terhadap pergerakan lawan, penjagaan perorangan maupun penjagaan secara tim tak akan pernah kita capai tanpa ketepatan waktu dan disiplin terhadap karakter teman walaupun lawan.” Tambah bang Anton. “Kalian pikir bakat yang dimiliki heru tak perlu dipertajam? kalian pikir kemampuan heru untuk melakukan three points shot dapat selamanya ada tanpa ketepatan waktu? Itu sebabnya ketepatan waktu menjadi sangat penting bagi tim dan hal tersebut dimulai dari ketepatan datang pada saat latihan.” Imbuh bang Anton. Anak-anak atlet sekolahan ini sesungguhnya tak mengerti apa yang dimaksud oleh bang Anton, namun mereka sangat mempercayai pelatih mereka ini, karena secara berangsur-angsur, kemampuan mereka secara teknis maupun fisik memang bertumbuh signifikan dan mereka suka dengan kemampuan yang mereka miliki karena mereka sangat menyukai olahraga bola basket dan bangga menjadi bagian dari tim sekolah mereka.

Dilapangan upacara, Komala sedang memotret kegiatan teman-temannya yang sedang berlatih baris-berbaris dan mengibarkan bendera. Sambil mencatat kronologi kegiatan Paskibra, tak lupa Komala menyempatkan untuk memotret cowok idamannya yang sedang keluar dari ruangan laboratorium IPA. Sanusi, setiap kali Komala memotretnya, nafasnya terhenti sejenak dan terdiam menatap Sanusi dari kejauhan. Disesalinya beberapa moment yang terlewatkan olehnya, namun tetap saja, sambil memotret teman-teman paskibra, Komala memotret Sanusi yang sedang menggunakan celemek laboratorium IPA. Diperhatikannya dari kejauhan Sanusi membuang sesuatu ke tempat sampah, dipotretnya gerak Sanusi dan sekali lagi Komala menghela nafas. Kekaguman Komala kepada Sanusi bukan tanpa alasan, Sanusi bukanlah sosok lelaki yang tampan dan mempesona, perawakannya kurus dan rambutnya ikal berantakan. Namun Sanusi dikenal sebagai murid yang cerdas dan yang paling disukai Komala adalah buku-buku novel yang sering dibawa Sanusi ke sekolah, yang sering dibacanya disela-sela istirahat sekolah. Tanpa diketahui Sanusi, Komala seringkali mengintip judul-judul novel yang dibacanya, kemudian ia juga membeli novel tersebut lalu dibacanya pula. Komala ingin satu saat Sanusi tahu bahwa, ia tahu dan ingin merasakan hal yang sama dengannya. Disatu hari, Komala melihat Sanusi sedang membaca buku Sang Nabi, karya Kahlil Gibran. Komala tak mengerti tentang buku ini, namun ketika ia membaca pula buku ini, ia makin terkagum-kagum kepada sosok Sanusi. Tak pernah ada satu kesempatan pun Komala berani menegur Sanusi, bahkan mungkin Sanusi takkan pernah tahu bahwa Komala menyukainya. Buat Komala, Sanusi terlalu dingin terhadap perempuan, sudah hampir 3 tahun Komala memperhatikan Sanusi dan tak satu kalipun Komala melihat Sanusi bercengkerama dengan perempuan. Sanusi selalu saja asyik membaca novelnya dikantin, ditaman, ditangga sekolah, bersandar pada pilar-pilar sekolah, Sanusi menghabiskan waktunya hanya untuk membaca novel-novel kesukaannya.

Komala terjaga dari lamunannya dan kembali mengambil gambar-gambar teman-teman Paskibra. Tak terasa hari menjelang siang iapun duduk dikaki tangga dan membuka-buka catatannya. Dipilah-pilahnya tulisan-tulisan yang akan ditempelnya di majalah dinding senin esok. Dilihat-lihatnya kembali hasil foto yang telah dikumpulkan dikameranya, dilihatnya raminah yang sedang melangkahkan kakinya menuju tiang bendera sambil menumpu bendera, diapit suradi dan rizal mereka berbaris rapi mengibarkan sang saka merah putih. Tak lama kemudian Raminah menghampirinya dan menegur Komala, “Bisa kita berbincang sebentar? Ada yang ingin aku tanyakan sama kamu.” Sambil membenarkan letak kacamatanya Komala membelalak ke arah Raminah yang sedang memegang CD,”Ada apa? CD apa itu?” Tersenyum simpul Raminah menjawab,”Kutemukan ini didalam buku pelajaranku, tentunya kita berdua tahu ini perbuatan siapa.” Sambil menghela nafas Raminah melanjutkan,”Namun aku tak tahu apakah aku sanggup untuk mendengarnya, tentunya tak sanggup apabila mendengarkannya sendirian.” Kemudian Komala mengeluarkan Laptop dari tasnya dan tanpa basa basi merebut CD dari tangan Raminah, dinyalakannya Laptop kemudian menempatkan CD tersebut ke CD player. Ternyata isi dari CD tersebut adalah video musik ciptaan Mika, dipembukaan video tersebut terlihat keindahan desa mereka, tatanan gemunung yang melingkupi sawah-sawah dan ladang didesa mereka beserta sungai yang membelah desa mereka yang tentunya mengaliri sungai dibelakang rumah raminah, lagu pertama instrumental gitar akustik yang berjudul “Negeri yang dijanjikan di satu sumpah.” Dengan seksama Raminah dan Komala menyaksikan video musik tersebut, sambil menyeruput es teh manis yang dibeli dikantin.

CD tersebut berisi kompilasi video-video musik yang dibuat Mika khusus buat Raminah, tak disangkanya Mika akan melakukan hal sejauh ini, tanpa disadarinya Mika menempati ruang tersendiri dibenaknya. Tanpa basa basi Wicak yang bermandikan keringat sambil membasuh peluhnya, ia nimbrung diantara Raminah dan Komala. Mengalihkan perhatian Wicak bertanya kepada mereka,”Kalian nanti kuliah dimana? Bareng aku yuk cari kampus.” Wicak melanjutkan,”Minggu depan aku dan beberapa teman-teman akan ke Jakarta dan Bandung, bulan depan ke malang dan surabaya, aku dan beberapa teman-teman mendapat tawaran beasiswa dibeberapa kampus, ikut yuk.” Raminah dan Komala bertatapan, tersenyum membalas teguran Wicak,”Kamu sana latihan, aku lebih senang melihatmu bermain bola basket daripada nimbrung gosip perempuan.” Wicak tertawa terbahak-bahak,”Baiklah, tapi nanti kalau minat bareng kami cari kampus, beritahu ya, biar bisa diatur akomodasinya.”

Latihan paskibra telah usai, Raminah dan Komala kembali menyimak video musik yang dibuat Mika. Tanpa terasa mereka terhanyut dalam alunan gitar Mika dan terkagum dengan kemampuan Mika mengolah isi dari video musik tersebut. Ada beberapa diantaranya video pemandangan alam disepanjang perjalanan Mika dan teman-teman menuju konser musik, ada diantaranya aktivitas konser musik yang mereka tonton, adapula tentang keseharian Mika dan teman-teman bandnya direkam didalam video musik tersebut. Namun yang paling mengesankan adalah video mbak laluna dihamparan rumput dan ilalang dikaki gunung didesa mereka, indah sekali video ini. Mbak laluna terlihat sangat cantik sekali didalam video ini. Mbak Laluna memang dikenal sebagai kembang desa mereka, namun entah kenapa sampai sekarang belum juga ada yang meminangnya. Pernah terdengar cerita bahwa mbak laluna semasa kuliahnya memiliki kekasih, mereka menjalin kisah asmara cukup lama, namun mereka ternyata berpisah. Tak ada yang berani menduga sebab musabab dari berpisahnya jalinan asmara mereka, namun memang, kekasih mbak laluna itu tak pernah ada yang mengungkitnya atau bertanya-tanya. Teman-teman sebaya mbak laluna semua sudah berkeluarga dan ada beberapa diantara mereka yang merantau keluar daerah. Banyak diantara mereka yang mencoba membantu untuk memperkenalkan mbak laluna dengan pria, namun nampaknya tak ada yang berhasil membuka pintu hati mbak laluna. Didesa mereka mbak Laluna merupakan panutan bagi remaja perempuan, segala bentuk perilaku dan tutur kata serta aksesoris perempuan modis yang digunakannya menjadi trend setter didesa mereka.

Hari telah menjelang sore, para murid yang melakukan aktivitas disekolah satu persatu pulang meninggalkan sekolah. Sekolahpun berangsur-angsur sepi, Raminah dan Komala pulang berbarengan, meski rumah mereka berjauhan namun disempatkan oleh mereka berdua untuk berjalan bersama menuju rumah masing-masing. Diperjalanan pulang Komala dengan derasnya bercerita tentang sanusi dan segala tingkah polahnya disekolah, buku-buku yang dibacanya, sampai jenis-jenis makanan kecil yang dimakan sanusi dikala istirahat pelajaran. Raminah tersenyum simpul mendengar cerita komala, yang dibenaknya ada beribu kenangan tentang Mika dari semasa awal-awal sekolah, ia mencoba mengingat-ingat kembali segala yang telah dilakukan oleh Mika untuk merayunya, sambil memejamkan mata sejenak, Raminah menghirup udara senja didesanya, entah apa yang harus diperbuatnya terhadap Mika, apalagi selama ini Mika selalu saja tak pernah secara langsung mengutarakan perasaannya, ia hanya memberikan isyarat suka, tanpa mengatakan secara langsung apa yang dirasakannya. Memang, betul sekali Mika seringkali menempelkan puisi di majalah dinding sekolah tentang cinta, tentang keindahan alam, tentang kasih sayang, tentang asmara, namun baru kali ini Mika menyampaikan perasaannya secara langsung kepada Raminah, itupun dengan sembunyi-sembunyi. Pengecut, lirih Raminah didalam hati.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s