Terjatuh Diantara Gemintang (Chapter 6: Perjalanan Pulang Menuju Hati yang Setia Menunggu)


Malam sudah larut dan suradi belum lagi pulang, ia masih mengumpulkan batu-batu kali untuk dinding sawah. Pekerjaan sambilan yang menguras waktu dan tenaganya sepulang sekolah, namun dijalaninya tanpa kenal lelah. Masih ditepi sungai suradi mengais rejeki, untuk menafkahi adik-adiknya yang masih kecil. Suradi anak yatim piatu, hidup bersama adik-adiknya yang masih SD dan SMP, tinggal dirumah peninggalan orang tua mereka. Batu-batu kali dikumpulkannya dikeranjang, dipikulnya menuju ke pematang sawah, tak dirasakannya bahwa waktu berlalu begitu larut dan bahunya yang kurus dan kerempeng memikul keranjang batu.

Sedikit lagi selesai, gumamnya dalam hati, ia pun beristirahat sejenak sebelum pulang ke rumah. Peluh yang disekanya dalam dinginnya malam yang menusuk ke tulang, Suradi melepaskan sarung tangannya dan meletakkan disisinya. Lalu ia minum teh dari termos yang dibawanya dari rumah, Suradi meringis sedikit membasuh lecet-lecet dilengannya, kemudian menghela nafas sejenak, ia pun beranjak pulang. Mengayuh sepeda kumbang peninggalan bapaknya ia menelusuri pematang sawah, sambil terkantuk-kantuk sedikit ia mengayuh sepedanya. Di jalan raya ia melihat sesosok anak perempuan berjalan, memikul tampah dikepala, kemudian dihampirinya gadis itu.

“Lin Fang Yin, ayo ikut bonceng sama mas.” tegur Suradi. Lin menoleh ke arah Suradi, kemudian tersenyum. Segera saja Lin Fang Yin menurunkan tampah kuenya lalu naik sepeda Suradi, dipangkunya tampah kue. Hari ini Lin Fang Yin senang sekali, dagangan kuenya laku terjual habis di pasar. Kemudian Suradi bertanya kepada Lin tentang dagangan kuenya, dijawab dengan semangat oleh Lin Fang Yin, senang sekali ia berpapasan dengan Suradi. Setiap hari Lin Fang Yin dan Suradi bertemu di pematang sawah desa mereka sepulang dari bekerja di pasar dan di sawah, mereka selalu berpapasan di jalan setiap malam. Diantarnya Lin Fang Yin sampai ke rumah oleh Suradi, seperti biasa mereka bercengkerama sebentar, disediakan oleh Lin kue dan teh manis hangat untuk Suradi, kemudian Suradi pulang karena adik-adiknya menunggu di rumah.

Pamit Suradi kepada ayah Lin,, dijabatnya tangan ayah dan sambil mengantar Suradi ke serambi rumah, ayah Lin menepuk-nepuk pundak Suradi, “Terima kasih nak, salam buat adik-adikmu dirumah, katakan pada mereka rumah ayah terbuka untuk mereka bermain dan bercengkerama, disini ada kue untuk mereka bisa nikmati.” Suradi kemudian menghela sepedanya menuju pulang ke rumah, sesampainya dirumah, ia mendapati adik-adiknya sudah tertidur. Ia menuju ke bilik mandi dan membasuh badannya yang berpeluh keringat, sesudah mandi ia merasa segar sekali, dibuatnya teh manis hangat, shalat isya sejenak, kemudian membuka-buka buku untuk mengerjakan PR sekolah.

Pagi hari yang cerah, para murid mulai berdatangan ke sekolah, besok ulang tahun Rizal, beberapa teman sekolah urun rembug untuk memberikannya kado ulang tahun. Saling berbisik satu sama lain para murid sekolah saling mengatakan apa sebaiknya yang diberikan untuk Rizal. Rizal adalah murid yang paling aktif di sekolah, selain ia merupakan anggota Paskibra, Rizal juga merupakan Ketua Osis, perangainya yang ramah dan sangat terbuka membuatnya menjadi panutan di sekolah. Rizal tidak tahu bahwa teman-temannya banyak yang membicarakan tentang ulang tahunnya, seperti biasa ia menyapa setiap teman yang berpapasan di sekolah, buat Rizal menjadi seorang Ketua Osis merupakan sebuah pengabdian kepada sekitarnya, tak jarang ia menerima banyak masukan dari teman sekolahnya, mengenai kegiatan ekstra kurikuler murid hingga beasiswa, sebagai seorang remaja wawasannya cukup luas, selain berorganisasi dan mendengar masukan teman-temannya. Dari sisi prestasi akademik, Rizal biasa saja, tidak ada yang istimewa, namun kelebihannya adalah ketekunan untuk belajar, mendengar dan memberikan masukan kepada sesama temannya berorganisasi.

Tiara, wakil ketua OSIS diberikan tugas untuk mencari hadiah buat Rizal, diselingi canda tawa dengan Yaya, Novi dan Ema, mereka-reka kado untuk Rizal. Memesan kue ulang tahun, membeli hiasan dinding untuk ruangan OSIS sudah mereka lakukan, mereka ingin membuat kejutan yang tak terlupakan bagi Rizal, sebuah perayaan ulang tahun yang sederhana namun berkesan untuk Rizal. Bagi teman-teman di OSIS, Rizal adalah panutan, dan dari segala kelebihan Rizal, ia setia terhadap kawan, sedikit sekali apa yang terjadi terhadap teman-teman luput dari perhatiannya, Rizal juga merupakan pemberi masukan yang baik, banyak persoalan yang dihadapi organisasi diselesaikannya dengan baik.

Tiara menghampiri Rizal dan menyampaikan ada beberapa program ekstra kurikuler yang mesti segera diselesaikannya menjelang akhir semester, kemudian bersama Tiara, Rizal berjalan beriringan menelusuri aula sekolah mereka berbincang mengenai program ekstra kurikuler tersebut, dengan cermat Tiara memperhatikannya. Sambil mencoret-coret buku catatan ditangannya Rizal membentuk diagram prioritas program ekstra kulikuler sekolah mereka yang tertunda dan mendiskusikan prioritas dari program tersebut. Tak lama kemudian mereka berpapasan dengan Yaya, Novi dan Ema, mereka bertiga pun akhirnya ikut berembug dengan Rizal. Bel sekolah pertanda masuk kelas pun berbunyi, murid-murid memasuki kelas mereka masing-masing dan mulai belajar.

Hari berlalu hingga sore menjelang, Suradi menegur Rizal yang hendak menuju parkiran sepeda, kepada sahabatnya tersebut Suradi menyampaikan,”Selamat ulang tahun dus, semoga segera punya pacar.” Sambil terkekeh Suradi mengacak-ngacak rambut Rizal dan Rizal pun tertawa mendengar teguran sahabatnya tersebut,”Ulang tahunku besok mbel, sampean saja ndak punya pacar, aku koq disuruh punya pacar.” Lalu mereka tertawa berdua dan mengambil sepeda mereka masing-masing. Menelusuri jalan desa, Rizal dan Suradi mengayuh sepeda, sambil bercengkerama mereka melalui jalan pedesaan, sebagai sesama sahabat mereka memang akrab dan banyak saling bercerita satu sama lain. Sesampainya di persimpangan Suradi dan Rizal berpisah, Suradi menuju pematang sawah, Rizal pulang ke rumah, di senja hari itu raga mereka berpisah namun benak mereka menyimpan banyak canda tawa dan celoteh sepanjang perjalanan, dua sahabat berbeda cerita namun satu dalam persekawanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s