Terjatuh Diantara Gemintang (Chapter 8 : Menafsirkan Rinduku Padamu)


“Sudah kukatakan, aku tak suka lelaki perayu,” ketus Raminah kepada Wicak. Sepanjang perjalanan di bus wisata yang disewa sekolah untuk ke Bandung, Wicak mencoba merengkuh hati Raminah. Namun Raminah tak bergeming, ia kesal sekali menerima kenyataan bahwa ternyata Wicak seseorang yang gombal. Selama 3 tahun lebih Raminah menyaksikan kegagahan Wicak bermain basket, namun setelah mengetahui perangai Wicak yang seperti ini, ia kecewa. Namun bukan Wicak namanya apabila ia mudah menyerah, tetap saja kata-kata manis untuk merajuk Raminah diucapkannya tanpa henti-hentinya. Kesal dengan Wicak, Raminah mengalihkan pembicaraan kepada Komala yang sedang berbagi coklat dengan Sanusi. Ditegurnya Komala yang telah mengacuhkannya sepanjang perjalanan, ia kesal dengan sahabatnya yang satu ini, betapa mudah mengacuhkannya dan lebih memperhatikan Sanusi. “Hei Komala, sudah suap-suapan coklatnya?” ketus Raminah. Komala dan Sanusi tertawa terbahak-bahak mendengar teguran Raminah, mereka tak menyangka bahwa Raminah akan seketus itu. Melihat dan mendengar mereka berdua tertawa, Raminah makin kesal, iapun akhirnya mengambil komik Komala di tas dan mulai membacanya. Hari telah senja dan laju bus pariwisata membawa mereka ke tempat-tempat yang tak pernah mereka lihat sebelumnya. Wicak sesekali menoleh ke komik yang dibaca Raminah, tak lama kemudian ia meminjam gitar Dradjat, kemudian Wicak mulai memetikkan gitar. Dilantunkannya lagu Iwan Fals, Rinduku, Raminah baru tahu ternyata Wicak bisa bermain gitar, tak lama kemudian Komala mencolek Raminah dan membisikkan,”Wah ternyata, tak disangka-sangka.”

Perjalanan sudah sampai Sumedang, beberapa jam lagi akan sampai Bandung, Raminah menatap jendala bus, mencoba meredakan kekesalannya. Iapun menegur Wicak,”Maaf, aku berlaku kasar padamu, namun aku memang tidak suka lelaki gombal.” Wicak tersenyum dan memelintir ujung rambut Raminah, kemudian disentuhnya ujung hidung Raminah, ia memaafkan dengan sepenuh hati. “Kamu boleh memarahiku sepanjang hidupku Minah, asal kau bersedia menjadi kekasihku,”sebut Wicak lembut. “Aku tempatmu berkeluh kesah tentang apapun,” Wicak kembali mengucapkan kata-kata manis. “Tak bisakah kamu berperilaku biasa-biasa saja terhadap diriku, aku tidak suka lelaki gemulai,” timpal Raminah. Wicak tersenyum dan menunduk, kemudian Raminah pun ikut menunduk, sekejap dagu Raminah dicolek dan rambutnya diacak-acak, kemudian Wicak tertawa. Sambil menghela nafas Raminah mengalihkan wajahnya dan kembali duduk, kembali ia membaca komik Komala. Wicak kembali bermain gitar, sesekali Raminah memperhatikan Wicak bermain gitar, walau tak sebagus Mika, tapi pilihan lagu Wicak disukainya, berbeda dengan Mika yang terbiasa menyanyikan lagunya sendiri.

Dengan gundah gulana Raminah teringat kepada Mika, ia tidak ikut perjalanan bersama murid-murid yang lain, tak ada yang tahu Mika kemana, ia tak bercerita kepada siapapun, bahkan kepada teman-teman bandnya. Namun teman bandnya sudah maklum dengan perangai Mika yang seperti itu, karena memang sifatnya seperti itu, tak ada yang bisa melarangnya, untuk protespun dengan kelakuannya yang tampak kurang kompak, mereka tak kuasa. Dradjat, Eko, Yunia dan Joko ikut perjalanan study wisata, banyak memang yang bertanya-tanya tentang Mika, namun dibuat guyon oleh mereka rasa penasaran teman-temannya, agar tak perlu khawatir. Ketika Raminah bertanyapun dijawab oleh Joko dengan guyon, Mika dipingit sama bapaknya dan sambil tersenyum, Joko mengatakan agar Raminah jangan bingung. Sepanjang perjalanan Raminah tersita perhatiannya oleh rayuan Wicak, sementara untuk ngobrol dengan Komala tidak bisa karena ia sibuk dengan Sanusi. Rizal dan Suradi pun sibuk masing-masing di bus, sambil tertawa-tawa mereka menghabiskan waktu guyon bersama teman-teman yang lain, dan saling lempar-melempar bantal bus.

Sesampainya di losmen tempat murid-murid menginap di Bandung, mereka masing-masing membawa tas dan barang yang dibawa dari Magetan. Pak Djana memanggil murid-murid satu persatu dan mengumumkan kamar losmen mereka satu persatu, menuju ke kamar losmen Wicak menghampiri Raminah, di sematkan selimut rajutan batik di lengan Raminah, “Disini dingin, selimut ini untuk menghangatkan tubuhmu.” Wicak segera berlalu menuju kamarnya dan bergabung dengan teman-teman atletnya, meninggalkan Raminah yang tertegun menerima selimut tersebut. Komala menegurnya,”Ayo Minah, kita ngobrol di kamar.” Sambil merapihkan pakaian masing-masing, Komala tak henti-hentinya berbicara, tentang Sanusi dan tentang Wicak. Merasa bingung dengan ucapan Komala, Raminah merebahkan dirinya ke tempat tidur, dilihatnya selimut dari Wicak dan melihat Komala berbicara sambil menulis-nulis, buku perjalanan yang akan di tempel di mading sekolah. Tak lama kemudian Raminah bertanya,”Komala, kamu tahu kemana Mika?” Perhatian Komala teralih oleh pertanyaan Raminah. “Sudah ditanya ke teman-teman bandnya?” Komala balik bertanya. “Sudah, tak ada yang tahu, aku malah jadi bahan bercandaan oleh mereka,” jawab Raminah. Komala pun merapihkan bukunya, kemudian rebahan di samping Raminah,”Tidak mengerti aku dengan sikapnya, entah kenapa dia begitu.” Sambil menggelar selimut Wicak untuk mereka berdua, Komala mencoba untuk menghibur Raminah. “Nanti juga bertemu sekembalinya ke Magetan,” ucap Komala. “Bagaimana ini si Wicak, aku bingung,” tanya Raminah. “Memangnya yang kamu rasakan bagaimana?” Komala balik bertanya. Raminah terdiam dan memeluk Komala,”Entahlah, tak sanggup bilang tidak sama dia, terlalu baik sikapnya, di marahi malah makin baik sikapnya padaku.” Komala bangkit dari tidurnya kemudian menarik lengan Raminah untuk duduk,”Minah, kamu tahu tidak betapa beruntungnya dirimu, kenapa kamu tidak bisa lepas dengan isi hatimu.” Raminah yang terduduk dihadapan Komala langsung menatap Komala dan menjawab,”Tahu tidak, betapa besarnya pengorbanan bapakku untuk membesarkanku hingga hari ini datang dan aku bicara padamu? Konsentrasi sekolahku tak boleh teralih dengan urusan lelaki, aku mesti bantu bapak.” Lalu Komala bercerita tentang hal-hal yang Mika dan Wicak lakukan untuk merebut perhatiannya, diingatkannya peristiwa-peristiwa yang telah berlalu hingga perjalanan study wisata ini. Raminah hanya tertegun dan tak menjawab, yang dirasakan hanya ingin study wisata ini berakhir dan segera pulang ke Magetan untuk mengurus bapak dan ibunya.

Pagi menjelang dan murid-murid berbenah untuk kegiatan study wisata, ketukan di pintu terdengar dan suara Sanusi terdengar memanggil Komala dan Raminah. Mereka berdua keluar dari kamar, bersama Sanusi menuju teras losmen yang menggelar sarapan prasmanan untuk murid-murid. “Hari ini kita ke ITB dan Universitas Padjajaran kemudian ke Museum Asia Afrika, besok ke kampus-kampus swasta, tak sabar aku lihat aktivitas kampus di Bandung,” seru Komala kepada Raminah dan Sanusi. Sanusi lalu mencubit pipi Komala,”Tidak sabar lihat kakak mahasiswa ganteng ya.” Komala lalu tertawa,”Kakak mahasiswi yang cantik ada juga,” Komala menjewer kuping Sanusi. Lalu keduanya antri bersama murid lain untuk sarapan, sementara Raminah melihat tingkah laku mereka berdua, tak habis pikir dengan tingkah sahabatnya ini. Sanusi lalu mengambil piring, sendok dan garpu, diberikannya ke Komala, namun Komala menggeleng,”Satu piring saja, berdua.” Kemudian Sanusi tersenyum,”Kamu saja yang sarapan ya, aku tidak usah.” Komala secara spontan menjambak rambut ikal Sanusi,”Ya, kamu sarapan di kandang ayam saja.” Sanusi tertawa sambil menyendokkan nasi beserta lauk pauk yang tersedia. Raminah tak berucap sepatah katapun, ia sudah merasa tak nyaman dengan study wisata ini, sambil menyendokkan sarapan ke piring dilihatnya Wicak sedang becandaan dengan teman-teman atletnya di antrian. Wicak menoleh ke Raminah, dilihatnya pujaan hatinya sedang mengambil sarapan, rambut panjang yang diikat buntut kuda, Raminah cantik sekali pagi ini.

Raminah duduk di pojok halaman losmen sarapan sendiri, menjauh dari teman-temannya. Tak lama kemudian Wicak menghampirinya, Wicak berdiri di hadapan Raminah lalu menunduk,”Kamu kenapa tidak bersama Komala dan Sanusi?” Raminah terdiam dan menghentikan sarapannya, lalu beranjak ke teras mengambil minum. Wicak sambil membawa-bawa piring sarapan tergopoh-gopoh mengikuti Raminah. Namun langkah Raminah terlalu cepat, meninggalkan Wicak yang terperangah melihat tingkahnya, diletakkannya piring di meja lalu mengejar Raminah. “Minah kamu kenapa?” dengan keheranan Wicak mencoba memahami tingkah laku Raminah. Tak lama berselang Pak Djana memanggil murid-murid untuk masuk ke dalam bis wisata dan mengingatkan peralatan yang mesti mereka bawa. Di dalam bis Pak Djana mengabsen murid-murid satu persatu, Raminah dengan wajah dingin duduk dan membaca komik Komala. Wicak enggan mengganggunya, dibiarkannya Raminah membaca komik, sambil memetik gitar melantunkan lagu Dewa 19, Aku Milikmu.

Perjalanan mengelilingi kota Bandung membuat kegundahan hati Raminah berlalu, memasuki kampus ITB dilihatnya hutan lindung lebat menghampar kampus tersebut. Kakak mahasiswa dan mahasiswi sedang melakukan aktivitas masing-masing, ada yang sedang berjalan di koridor, ada yang duduk lesehan di rerumputan berdiskusi secara kelompok, ada yang bersandar di pohon membaca buku, ada yang sedang mengerumuni dosen, raut wajah antusias terpancar dari wajah kakak mahasiswa dan mahasiswi yang beraktivitas. Tanpa disadari oleh Raminah pemandangan yang dilihatnya membuat impiannya selama ini nyata, ia seperti memasuki kawasan dongeng para akademisi dan intelektual muda yang dengan wajah segar berseri-seri menimba ilmu pengetahuan di kampus. Turun dari bus tak di hiraukannya teman yang lain, disentuhnya kursi taman yang terbuat dari batu, di lihatnya pengumuman kegiatan kampus di mading yang tergelar sepanjang koridor. Di intipnya para mahasiswa yang sedang belajar, di dengarnya suara dosen memberikan pelajaran. Terdengar suara Pak Djana memanggil murid-murid dan memperkenalkan kakak mahasiswa yang akan memandu study wisata. Wajah kakak mahasiswa tersebut jernih sekali, wajah air wudhu, seperti ada air yang mengalir di wajahnya. Diperkenalkan olehnya fasilitas-fasilitas kampus, ruangan perkuliahan, ruangan organisasi mahasiswa dan yang membuat kagum adalah situs-situs tempat Proklamator Republik Indonesia, Ir. Soekarno belajar semasa sekolah.

Komala dengan antusias dokumentasikan suasana kampus, juga kegiatan kakak mahasiswa dan mahasiswi, serta fasilitas kampus. Dipandu oleh kakak mahasiswa menuju fakultas-fakultas yang ada dan dijelaskan oleh kakak mahasiswa tersebut jenis-jenis perkuliahan di masing-masing fakultas. Murid-murid saling tanya jawab dengan kakak mahasiswa pemandu study wisata, lembut suaranya membuat murid-murid bertanya berulang-ulang karena tak terdengar, namun kakak mahasiswa dengan sabar dan tersenyum menjawab pertanyaan murid-murid satu persatu. Wicak sibuk memperhatikan Raminah yang dengan antusias mendengarkan kakak mahasiswa memandu study wisata. Senang sekali tampaknya Raminah, terlihat jelas di wajahnya bahwa ia ingin sekali menempuh pendidikan sekolah tinggi, Wicak menepikan hasratnya untuk menegur Raminah, di benamnya dalam-dalam keinginan untuk mendekati, ia biarkan lamunannya di hela hembusan angin sejuk Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s