Terjatuh Diantara Gemintang (Chapter 13 : Menyeka Air Mata, Membasuh Luka)


crying

Melantunkan tembang musikalisasi puisi, Sanusi mencoba menghibur Komala. Dengan dawai gitar sederhana ditepi sungai, berdua bersenandung mengisi hari. Sambil menanti senja menjelang, menunggu matahari terbenam diufuk barat desa Magetan. Tak lama kemudian, Raminah menghampiri mereka berdua yang sedang diliputi bahagia, usai membantu bapak diladang. Komala tersenyum menyambut kedatangan Raminah, sambil memeluk pundaknya, dia mencoba menghibur Raminah. Sanusi pun masih memetikkan dawai gitarnya sambil mencoba untuk menenangkan gemuruh dihati kedua bersahabat ini. Ya, perpisahan sebentar lagi tiba bagi mereka. Terutama bagi Raminah, yang sepertinya telah kehilangan Mika lebih cepat dari dugaannya. Tak sempat berucap sesuatu yang berarti bagi dirinya, Mika telah melenggang meninggalkannya tanpa pamit begitu saja.

“Ada ditepis, tiada dicari,” ucap Komala kepada Raminah. Lirih Raminah menerima pernyataan Komala, hampir tak sanggup dia berkata apa – apa. Begitu keras kalimat itu menghunjam sanubarinya, padahal dia pun belum tahu mesti berbuat apa mengenai perasaan yang berkelindan dihatinya. Raminah merebahkan tubuhnya ke rerumputan ditepi sungai, rasa ini terlalu cepat bagi dirinya yang hanya tahu belajar dan bantu bapak ibu. Dia ingin membiarkan segala yang dirasanya mengalir bagai air sungai yang melalui belakang rumahnya. Raminah merasa terjebak dalam rasa yang menggelayut dihatinya,”setidaknya biarkan aku merasakan yang telah dilalui mba Laluna, merantau ke Ibukota dan menempuh masa belajar dengan beragam pengalaman yang akan kudapat.” Gumam Raminah kepada Komala dan Sanusi. “Aku tak mengenal rasa ini, butuh waktu untuk mencernanya, apalagi ada bapak dan ibu yang harus kubantu,”ucap Raminah.

Kemudian mereka bertiga pun bersenandung, ditemani ufuk barat langit desa Magetan yang perlahan membenamkan matahari. Sanusi pun mencoba untuk memberikan masukan bagi Raminah agar tak perlu merasa gundah gulana atas rasa yang dialaminya. “Tak perlu diambil pusing sikap Wicak dan Mika, mereka berdua mencoba memenangkan hatimu, kelak bila tiba waktunya, tentu dirimu pun tahu apa yang harus dilakukan,” ujar Sanusi kepada Raminah. Komala tetiba menyanggah Sanusi,”kamu sendiri bagaimana? Apakah setelah memasuki masa perkuliahan, kamu akan melupakanku juga?” Sanusi tersenyum simpul kepada Komala ketika dipertanyakan kesetiaannya kepada Komala,”kalau kita berdua memang ditakdirkan bersatu, maka tiada satu iblis pun dimuka bumi ini yang dapat mencegahnya.” Komala memilin rambut ikal Sanusi yang gimbal tersebut dengan lembut sambil mengatakan,”kalau aku yang berpaling bagaimana? Kakak – kakak mahasiswa banyak loh yang seperti kamu tuh,” terkikih Komala melihat wajah Sanusi yang tersipu malu. “Tiada yang kujaga selain kebahagiaan dirimu seorang,” ucap Sanusi.

Raminah sambil mendengar percakapan dua sejoli ini tersenyum simpul,”begitu ya yang disebut dengan bercinta.” Masih merebahkan tubuhnya ke rerumputan, Raminah mencoba mencerna dialektika dalam berkasih sayang yang dilakukan Sanusi dan Komala. Di lubuk hatinya yang paling dalam dia mempersiapkan sebuah perpisahan yang berkesan bagi Wicak dan Mika. Dia telah menetapkan hatinya untuk menempuh pendidikan kuliah, mengenai cinta yang baru dikenalnya dari dua sejoli ini, dia memastikan bahwa diperkuliahan akan didapatkannya. “Sanusi, adakah buku yang biasa kamu baca boleh dipinjamkan kepadaku? aku ingin mengenal cinta juga, aku ingin ketika rasa ini menghampiri, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” tanya Raminah. Sanusi pun tertawa terkikih,”Minah, tiada buku pedoman petunjuk untuk cinta, ia lahir dari kedalaman lubuk hatimu yang oleh waktu dibukakan pintu – pintu kesejatiannya, kelak ketika engkau menemukannya, takkan ada keraguan dalam dirimu untuk membuka hatimu. Ingatlah ini bukan soal tentang Mika dan Wicak yang sedang mencoba untuk mendekatimu tetapi tentang kesiapan dirimu untuk menerima cinta dan kasih sayang dalam dirimu.”

Tiada hari yang lebih membahagiakan dari terpautnya dua hati dalam kisah asmara yang melindapi siang dan malam kita. Hingga hari itu datang, bersabarlah. Memang butuh waktu, dalam penantian, mengisi hari demi hari dengan keindahan. Kelak ketika hati bisa menerima bahwa dirinyalah yang kita pilih sebagai pendamping dan pengisi hari – hari kita, dengan kesadaran penuh mampu menjalani komitmen yang kita tetapkan kepada pasangan kita. “Perasaanmu lebih condong ke siapa memangnya?” tanya Komala kepada Raminah. Mendengar pertanyaan Komala, Raminah langsung menjawab,”aku lebih condong kepada Wicak, ia lebih berani mendekatiku secara langsung. Tetapi Mika menggelayuti bayanganku dengan segala usahanya mendekatiku, terlintas dibenakku masa – masa dimana ia menghamparkan ratusan puisi di mading sekolah untuk menyenangkanku, yang anehnya diakhir masa sekolah inilah baru diungkapkannya.” Rasa yang dialami Raminah melindapi malam – malam panjangnya, akan terasa sangat janggal sekali nanti ketika kuliah tiada lagi dilihatnya puisi – puisi dan cerpen Mika di mading. “Kelak mungkin aku yang akan memujanya sampai menghabiskan waktu yang tak menentu, apabila itu yang terjadi akan malang sekali nasibku,” lirih Raminah.

Tetiba Wicak menghampiri mereka bertiga, berkata lantang diantara mereka,”Takkan kubiarkan hari itu datang kepadamu Minah.” Terduduk disamping Raminah yang merebahkan tubuhnya di rerumputan, dengan sendu Wicak berucap,”sedih sekali aku harus mendengar percakapan ini, tak seharusnya terjadi seperti yang engkau katakan.” Masa depan kita masih jauh terbentang, masih sangat muda sekali untuk tersekat dalam sebuah pilihan – pilihan yang mengharuskan kita untuk berkomitmen terlalu dalam. “Aku ini tulus mencintaimu Raminah, tetapi kalau hatimu tak mampu menetapkan pilihan atau bahkan memilih Mika menjadi kekasihmu tak mengapa, karena yang dibutuhkan dari saling berkasih sayang adalah dua hati yang menyatu, bukan bayang – bayang semu yang tak tentu arah,” ujar Wicak. Raminah, Komala dan Sanusi terperanjat dengan kehadiran Wicak yang tetiba saja datang. Berkecamuk rasa diantara mereka berempat, Raminah yang tadinya galau karena percintaan menjadi salah tingkah dengan kehadiran Wicak. “Bukan bermaksud begitu, tetapi cobalah untuk mengerti, aku ini tidak memahami yang aku rasakan saat ini, sebaiknya aku pergi, maafkan,” jawab Raminah.

Beranjak dari tepi sungai, Raminah langsung berjalan menyusuri tepian sungai menuju ke rumahnya. Wicak berusaha mengejarnya, meraih lengan Raminah yang kemudian mencoba untuk menenangkannya. Mengiringi langkah Raminah, Wicak mencoba memperbaiki sikapnya, ini adalah sebuah situasi dimana ia pun tak sanggup memikulnya saat ini. Sebuah kenyataan dimana Raminah telah terpengaruh terlalu dalam terhadap usaha Mika untuk mendekatinya dan meskipun ia menyadari bahwa Raminah lebih memilih dirinya dibandingkan Mika, egonya tak mampu menerima kenyataan bahwa Raminah memiliki kekhawatiran yang diungkapkannya kepada Sanusi dan Komala. Sesampainya di rumah Raminah, Wicak berbincang sejenak dengan bapak dan ibu, di sela canda ia mencoba meredam gemuruh dihatinya. Mencoba untuk bersiteguh dengan pilihannya, Wicak sesekali menatap Raminah yang tertegun diantara perbincangan, ia merasa harus meyakinkannya lebih jauh, tetapi dibatasi dirinya untuk tidak terlalu terbawa perasaan yang tak menentu. Sebab pada akhirnya bukan kepada siapa kita ditakdirkan bersama, tetapi ketika takdir menghampiri dan membahagiakan, ada hati yang harus ditenteramkannya kelak tanpa harus terlibat terlalu emosional di usia remaja. LIN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s